Pagi itu dimulai dengan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Hanya sebuah mimpi tentang seseorang yang punya nama saat SMA. Bahkan bukan yang benar-benar dekat. Tidak pernah ada kisah cinta, tidak pernah ada pengakuan, tidak pernah ada hubungan yang layak dikenang. Hanya sekelebat rasa suka yang mungkin berlangsung beberapa minggu, lalu hilang ditelan kesibukan dan waktu. Namun bertahun-tahun kemudian, justru wajah itulah yang muncul dalam mimpi. Anehnya, yang tertinggal bukan orangnya. Yang tertinggal hanya perasaan yang jauh lebih tua dan jauh lebih menyakitkan, bernama penyesalan.
Mungkin memang
seperti itulah cara ingatan bekerja. Ia tidak pernah datang dengan membawa
masalah yang sebenarnya. Ia memilih jalan memutar, menyamar menjadi lagu lama,
foto lama, atau seseorang yang pernah lewat sebentar dalam hidup. Padahal yang
ingin dibukanya bukan tentang orangnya, melainkan sebuah ruangan yang selama ini
sengaja dikunci rapat. Di balik pintu itu tersimpan pertanyaan yang sudah
berkali-kali dihindari. Bagaimana jika dulu hidup dijalani dengan sedikit lebih
berani? Bagaimana jika dulu tidak terlalu cepat menyerah? Bagaimana jika dulu
lebih keras memperjuangkan diri sendiri?
Ada masa ketika
dunia terasa sangat luas. Masa ketika lingkungan dipenuhi orang-orang baik,
orang-orang cerdas, orang-orang yang membuat masa depan terlihat begitu dekat
untuk disentuh. Saat itu semuanya terasa biasa saja. Tidak ada yang tampak
istimewa karena keberadaannya dianggap permanen. Pertemanan akan selalu ada.
Kesempatan akan selalu ada. Lingkungan itu akan selalu ada. Orang-orang itu
akan selalu ada. Jika hari ini tidak mengambil kesempatan yang lewat, masih ada
besok. Jika tahun ini tidak mencoba, masih ada tahun depan. Jika sekarang
memilih beristirahat, nanti tinggal kembali. Ternyata hidup tidak pernah
menjanjikan hal seperti itu.
Yang paling
menyakitkan dari bertambahnya usia bukanlah melihat kerutan di wajah atau
rambut yang mulai berubah warna. Yang paling menyakitkan adalah menyadari bahwa
banyak hal ternyata memiliki tanggal kedaluwarsa yang tidak pernah dituliskan.
Ada lingkungan yang hanya bisa dimiliki pada masa tertentu. Ada kesempatan yang
hanya relevan pada usia tertentu. Ada perjumpaan yang hanya mungkin terjadi
jika seseorang berada di tempat dan waktu yang tepat. Ketika semuanya berlalu,
tidak ada tombol untuk kembali. Tidak ada kesempatan kedua untuk mengulang
persis kehidupan yang sama. Yang tersisa hanya bayangan tentang apa yang
mungkin terjadi seandainya dulu memilih jalan yang berbeda.
Mungkin itulah
sebabnya rasa malu muncul begitu kuat. Bukan malu karena gagal. Gagal masih
terasa terhormat dibandingkan ini. Yang lebih sulit diterima adalah perasaan
bahwa banyak hal bahkan tidak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Terlalu
banyak keputusan yang diakhiri dengan kata "yaudah". Yaudah kalau
tidak jadi. Yaudah kalau tidak sempat. Yaudah kalau tidak lolos. Yaudah kalau
tidak cocok. Kata yang pendek, ringan, dan tampak tidak berbahaya itu ternyata
memiliki harga yang baru bisa dipahami bertahun-tahun kemudian. Kata itu terasa
jauh lebih berat daripada yang pernah dibayangkan.
Penyesalan itu
kemudian merembet ke mana-mana. Ke tubuh yang dulu tidak diurus sebaik mungkin.
Ke keberanian yang tidak pernah cukup besar. Ke hubungan-hubungan yang tidak
pernah dimulai. Ke kesempatan-kesempatan yang dilewatkan begitu saja. Kadang
muncul pikiran yang sangat sederhana tetapi menyakitkan. Mungkin semuanya bisa
berbeda. Mungkin jika dulu lebih disiplin menjaga diri, lebih percaya diri,
lebih berani dan lebih keras mengejar apa yang diinginkan, hidup hari ini akan
memiliki bentuk yang berbeda.
Yang lucu, setelah
dialog tentang penyesalan itu mengudara, yang sebenarnya dirindukan justru
bukan seua kesempatan dan hubungan, namun hanya sebuah kebebasan. Kebebasan
untuk memilih. Kebebasan untuk bergerak. Kebebasan untuk melangkah ke arah yang
diinginkan tanpa merasa ditahan oleh begitu banyak konsekuensi. Dulu kebebasan
itu terasa begitu dekat sehingga tidak dianggap berharga. Sekarang justru
terasa mahal karena hidup telah dipenuhi oleh tanggung jawab, keterikatan, dan
berbagai hal yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan. Kehidupannya cukup indah,
tetapi sekaligus membuatnya sadar bahwa dirinya tidak lagi seringan dulu.
Hidup selalu
punya cara yang aneh untuk menghentikan seseorang tenggelam terlalu jauh dalam
penyesalannya sendiri. Dalam semua lamunan tentang kesempatan yang hilang dan
kehidupan alternatif yang tidak pernah terjadi, ada seorang anak kecil yang
berlari menghampiri. Seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang
kegagalan, kesempatan, status sosial, pekerjaan impian, atau pasangan ideal.
Anak itu hanya tahu bahwa ada satu orang yang ingin selalu berada di dekatnya.
Ada satu wajah yang membuatnya tenang. Ada satu pelukan yang selalu ingin
dicarinya ketika takut. Dan betapa anehnya menyadari bahwa sementara seseorang
sibuk menghitung semua yang tidak dimilikinya, ada seorang anak yang
memandangnya seolah seluruh dunia sudah ada di hadapannya.
Tuhan memang
adil. Pada akhirnya, setelah semua tangisan, kemarahan, dan rasa malu itu reda,
masih ada satu kalimat yang bertahan. Sebuah kalimat sederhana yang terdengar
jauh lebih jujur daripada semua penyesalan yang datang sebelumnya, hidup memang
tidak menjadi seperti yang dibayangkan, tetapi hidup ini belum selesai. Dan
selama belum selesai, mungkin masih ada sedikit langit yang tersisa untuk
diterbangi.



